Postingan

Imajinasi

Imajinasi meliar Melanglang buana entah kemana Kau selalu ikut serta Tak pernah alpa ________________ 16.10.16

Hati-Hati!

Hati-hati dengan perempuan! Ia panjang ingatan Meskipun ia bukan sejarawan Hati-hati dengan penulis! Jika kau membuatnya bahagia atau menangis Kau akan abadi dalam karyanya Hati-hati dengan pendongeng! Karena dia akan mudah bercerita Tentang baik pun burukmu Hati-hati denganku! Karena aku mungkin bagian Dari orang-orang yang kuceritakan di atas Hati-Hati!

Siluet

Izinkan aku berkawan dengan sang malam Hanyut membawaku pada tentram Bintang tiada, langit menghitam Kelam Langit bicara Awan bercerita Gelap mencerca Gulita menyiksa Gerimis tak mau bersekutu Aku menopang dagu di ambang pintu Memandangi orang di depanku Sedikit lama, hingga aku lupa waktu Sesekali ia terkena cahaya Dari kendaraan yang lalu-lalang melewatinya Sejak saat itu aku tahu kalau itu pria Aku melihatnya membawa buket Entah untuk siapa Yang jelas, itu bukan bunga duka Haruskah aku bertanya? Gerimis mulai berhenti Jangan harap ada pelangi! Karena ini malam hari Hey! Kau yang masih berupa siluet Mungkinkah kau hendak kesini? Pangauban, 02.11.16

Setahun Lalu

Aku ingat setahun lalu Kita bertemu di suatu perjamuan Tak resmi, memang Tetapi terasa begitu kaku Saat itu Aku bersama temanku Kau pun bersama temanmu Tak pernah sekalipun Bola mata kita bertemu Haha! Apa daya, aku tak kuasa Aku hanya bisa mencuri tatap Dari setiap kesempatan yang ada Oh! Sekadar bilang 'hai' saja aku malu Aku hanya diam membisu, pura-pura tak melihatmu Menghindarimu Ah! Aku hanya bisa tersipu Sampai akhirnya aku kembali Aku harus cukup puas Hanya dengan perhatikanmu Dari jauh

Rasa

Biarkan malam yang bercerita Melalui bintang yang mewarnai gelapnya Tentang sebuah rasa Terbalut asa bertujuan Surga | Ini semua di luar batas sebab Akupun tak punya kuasa untuk membendungnya Tapi aku lebih memilih untuk diam Karena aku yakin dan tau ini bukan saatnya | Tak pernah teralpakan olehku Bersemayam syahdu di sudut ruang Rindu Yang tak terjamah sesiapa kecuali aku Dan takkan berpadu kecuali itu denganmu | Aku ingin berkolusi dengan waktu Merangkai lancangku menyengerakan semogaku Ah! Andai kutahu bagaimana cara memintal masa Pasti akan ku ikat dengan ikatan yang kuat, asalkan itu denganmu | Tuhan! Hanya melalui penentuan-Mu aku gantungkan harapanku Kumohon indahkanlah pintaku Untuk menyempurnakan Dien-Mu Dengannya, satu yang selalu kurindu | | | Bumi Allah, 20 Agustus 2K16 By: Annan dan Aniri

Aku Bisa Apa?

Kau tahu? Jawaban yang aku ingin dengar pada saat itu adalah, “Ya, aku akan berjuang lebih keras lagi. Aku yakin, suatu saat nanti pasti akan bisa.” Tapi yang kudengar hanyalah jawaban yang penuh dengan rasa pesimis. Ya, aku memang tak tahu apa-apa tentangmu. Dan aku juga tak bisa menghakimimu dengan jawabanmu itu. Pada akhirnya yang paling tahu kondisimu adalah dirimu sendiri. Aku bisa apa? Mendengarmu mengatakan itu, aku menjadi sedikit mematung dibuatnya. Hanya sedikit, karena aku memang sudah mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk sejak dulu. Aku mencoba tetap berdiri tegak di hadapanmu. Menjadi kuat seperti wonder woman. Tapi pada akhirnya itu hanya terlihat memaksa. Kau mungkin tahu aku hanya berpura-pura kuat. Yaa, aku bisa apa? Meyakinkanmu mungkin bukan menjadi hal yang baru untukku. Selama ini aku berusaha memandang ke depan. Yakin dengan semua kemungkinan baik yang mungkin terjadi. Mendengar ketidak yakinan darimu membuatku tak bisa berkutik lagi. Kalau ...

Telur Gulung di Hulu Oktober

Malam   ini gw terinspirasi oleh telur gulung. Entah mengapa gw langsung menganalogikan kejadian ini dengan harapan. Jadi ceritanya, ada temen gw yang dateng ke kost. Dia ngajak beli telur gulung. Gw sih ga begitu ngarep telur gulung itu ada. Soalnya udah malem juga. Biasanya kalau udah malem kayak gini, telur gulungnya udah habis. Jadi yaaa gw ga terlalu mengharap. Saat terdengar suara motor temen gw tadi, gw mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yaitu kehabisan telur gulung. Tapi ternyata telur gulungnya ada. Seneng banget dah gw. Soalnya emang udah kelaperan. Sejak hari itu, gw selalu mempersiapkan kemungkinan terburuk. Jadi kata-kata yang gw ucapkan adalah ‘telur gulungnya habis, paling’. Okelaah untuk telur gulung, gw gampang banget bikin kemungkinan terburuk. Tapi untuk ‘hal lain’, gw takut untuk memikirkan kemungkinan terburuknya. Sesekali terpikir sih, tapi langsung gw ilangin imajinasi itu. Gw pengen menikmati apa yang ada di hadapan aja. Entah di ...